Wednesday, 10 June 2015
Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota dan kaum muslimin disana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak orang muhajrin dan anshar, para ibn sabil, dan orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?
Label:
Kisah inspiratif
Tuesday, 9 June 2015
DEWA PERTAMA
KAHLIL GIBRAN
O, rindu hebat yang terus menerusini,
Siap-siaga memandu siang sampai senjakala ini,
Serta malam sampai fajar menyingsing;
Pasang-surutnya selalu mengingatkan dan melupakan;
Selalu menaburkan nasib dan memanen
Kecuali harapan-harapan ini;
Tak berganti mengangkat diri dari debu dan embun ini,
Hanya memanjangkan untuk menaburi,dan
jatuh bersama keinginan ke dalam debu,
Dan masih dengan keinginan yang lebih besar mencari embun lagi.
Dan tak habis-habis mengukur waktu ini
Haruskah jiwaku membutuhkan sebuah
samudera yang arusnya selalu mengacaukan satu sama lain,
Atau langit yang mengawasi angin membelokkan topan?
Akulah manusia, sebuah fragmen buta,
Dengan kesabaran aku dapat menemukannya.
Atau jika aku adalah ketuhanan yang maha tinggi,
Yang mengisi kekosongan manusia dan dewa-dewa,
Aku akan mengabulkannya .
Tapi baik kau maupun aku adalah manusia,
Tiada yang lebih tinggi di atas kita,
Kami ada kecuali senja pernah terbit dan kehilangan warna.
Label:
Kahlil Gibran
KAMI DAN KALIAN
Kahlil Gibran
Kamilah putra-putra penderitaan, sedang kalian
Putra-putra kerian. Ya, kamilah putra penderitaan
Dan penderitaan adalah bayangan Tuhan tunggal
Yang tak mendiami kawasan hati dengki.
Kamilah ruh yang sangsai, dan dukacita amatlah mulia
Buat berdiam di hati kecil
Bila kalian tertawa, kami meratap dan menangis,
Dan siapa yang pernah dibakar sekaligus dicuci oleh air matanya sendiri
Selamanya kan tetap suci
Biarpun kalian tak memahami kami, toh kami layangkan simpati.
Kalian ngebut bersama derasnya bengawan kehidupan,
Maka kalian tak menoleh kami,
Padahal kami duduk di bantaran sungai
Menontoni kalian dan menangkap suaramu ganjil
Kalian tak menangkap jeritan kami
Bisingnya hari membuat kalian tuli,
Tersumbat zat batu kehidupanmu yang tak pedulikan
Akan kebenaran, namun kami mendengar nyanyianmu
Karena bisikan dalam membukakan nurani kami
Kami menyaksikanmu berdiri di bawah ujung jemari cahaya
Tapi kalian tak bisa melihat kami
Karena kami tinggal.....
Dalam kegelapan yang menjanjikan pencerahan
Kalian putra pengejar surga dunia
Kalian tempatkan hati dalam genggaman kehampaan
Karena sentuhan tangan kehampaan begitu luwes dan mengundang selera
Kalian tinggal dalam rumah kebodohan
Karena dalam rumah ini
Tiada cermin kaca buat memandang jiwa
Kami menghela nafas panjang, dan hari keluhan ini
Terbitlah bisikan bunga-bunga
dan gemerisik daunan dan bisikan anak sungai
tatkala kau rendahkan derajat kami, tingkahmu berbaur
Dengan penghancuran tengkorak, gemeretak reruntuhan
Dan ratapan dari jurang dalam
Kami menangis ....
Menaruh simpati pada si Miskin
Gelandangan dan Janda yang berduka
Sedang kalian Bersukaria tersenyum
Memandang emas yang gemerlapan....
Label:
Kahlil Gibran
Monday, 8 June 2015
PETUAH SANG GURU
"Sesungguhnya baik guru dan dokter tidak rela memberi apabila keduanya tidak dihargai, Bersabarlah dengan penyakitmu bila anda jauh dari dokter dan puaslah dengan kebodohanmu bila anda jauh dari guru"
"Hati itu seperti cermin jika ia bersih maka akan mudah melihat bayangan begitupun dengan hati yang bersih ia akan mudah melihat kebenaran"
"Hati yang bersih akan dapat menangkap cahaya ilahi"
"Jadilah sufi yang fakih"
"Ikhlas dan Amalan bagaikan ruh dan jazad. jazad tanpa ruh tiadalah artinya"
"Jangan meremehkan air yang tenang ia juga bisa menenggelamkan"
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta tapi kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa (selalu merasa cukup)"
"Fanatiklah terhadap agama karena agama tidak mungkin salah"
"Jika kamu selalu berfikir bahwa untuk mendapatkan pekerjaan haruslah dengan sogokan maka dimanapun kamu akan mendapatkan hal demikian"
"Ambillah filosofi ikan dilaut ketika dalam kehidupan kamu mendapati disekelilingmu lebih memandang sesuatu tanpa mendasarinya dengan agama"
"Yang mendiamkan kebenaran adalah setan bisu"
"Kenalilah sifat buruk kalian kemudian bersihkan sifat burukmu lalu isilah dengan sifat yang terpuji (takholli ~ tahalli)"
"Buatlah mereka (anak dan orangtuanya) tidak punya alasan untuk menolakmu"
Label:
Nasehat Penuntut ilmu
Thursday, 28 May 2015
MASIH ADAKAH SENYUM SAHABATKU
Tak kutemukan lagi senyum sahabatku
Senyum yang betul ikhlas menyapaku
Yang menyimpan pengharapan
Bahwa Tuhan akan memberikan jalan
Kemana kau...? tak kutemukan lagi...
cahaya kebaikanmu dan kobaran semangatmu...
Dimana...? kan kudapatkan engkau kembali...
masih adakah yg seperti kau.... Sahabatku..
Label:
Karyaku
Wednesday, 29 April 2015
PENJARA SUCI
Dibenak orang, kau seperti bengkel yang siap merubah bahan rongsokan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini membuktikan bahwa banyak orang yang berasumsi bahwa kau hanya diperuntukkan bagi anak- anak yang mempunyai latar belakang permasalahan seperti pecandu narkoba, pemabuk, penjudi, dsb. Mereka anak-anak yang tidak biasa pisah dengan orang tuanya. Yah.. anak manjalah. Mereka angkat bicara " hidup ditempat seperti itu bagaikan berada di dalam penjara. Semuanya serba sendiri. Mau makan, sendiri. Mau tidur, sendiri. Mau cuci baju pun sendiri. Pokoknya semuanya serba sendiri". Dasar anak manja!!!!. Sampai kapan kalian akan terus bergantung pada orang tua kalian??. Cepat atau lambat, mau tidak mau kalian akan dipisahkan dengan orang tua kalian. Itulah sekelumit asumsi orang-orang mengenai dirimu wahai " Penjara suci ".
Apapun persepsi orang mengenai engkau, bagiku kau adalah tempat yang mengajarkan arti sebuah kemandirian, arti sebuah kebersamaan, mengajarkan berbagi rasa suka dan duka, serta mengajarkan arti sebuah pengorbanan. DiKaulah aku dapat belajar arti sebuah kesadaran, bahwa hidup tak selamanya harus bergantung pada orang. Sudah waktunya, aku harus beranjak pergi dan melangkah ke harapan yang harus aku capai. " مع السلامة ".
•Mapeck_2012-2015
Label:
Karyaku
Subscribe to:
Comments (Atom)
