Wednesday, 10 June 2015

Pemimpin yang Amanah

  Siapa yang tak kenal dengan Umar bin abdul aziz. sosok pemimpin yang adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran.

  Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepadanya. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul aziz ketika menjelang malam. Setelah mengetuk pintu,seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, "beritahu Amiril mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya. "Penjaga itu masuk untuk memberi tahu Umar bin abdul aziz yang hampir saja tidur. Umar pun duduk dan berkata, "Izinkan ia masuk".

  Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota dan kaum muslimin disana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak orang muhajrin dan anshar, para ibn sabil, dan orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?
  Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada umar bin Abdul aziz. Tidak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.

  Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz.

  "Ya Amirul mukminin, bagaimana keadaanmu?, bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggunganmu?. Umar pun lalu meniup lilin tersebut dan berkata, "wahai pelayan, nyalakan lampunya!. Lalu dinyalakanlah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.

  Umar melanjutkan perkataanya, "sekarang bertanyalah apa yang kamu ingin tanyakan?". Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar lalu memberitahukan keadaannya.

  Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar yang mematikan lilin. Dia bertanya, "Ya amirul mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan. Umar berkata, "Apa itu?.

  "Engkau mematikan lilin saat aku bertanya tentang keadaanmu dan keluargamu".

  Umar berkata "Wahai hamba ALLAH, lilin yang kumatikan itu adalah harta ALLAH, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu membelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku maka aku pun mematikan lilin kaum muslimin.

  Subhanallah, benar-benar mengagumkan!. Begitu besar kesungguhan Umar dalam menjaga harta kaum muslimin, berbeda dengan penguasa yang kita saksikan sekarang. 

(Sirah Umar bin abdul aziz, Ibnul hakam hal. 155-156) 

Tuesday, 9 June 2015

DEWA PERTAMA

KAHLIL GIBRAN

 

O, rindu hebat yang terus menerusini,

Siap-siaga memandu siang sampai senjakala ini,

Serta malam sampai fajar menyingsing;

Pasang-surutnya selalu mengingatkan dan melupakan;

Selalu menaburkan nasib dan memanen

Kecuali harapan-harapan ini;

Tak berganti mengangkat diri dari debu dan embun ini,

Hanya memanjangkan untuk menaburi,dan 

jatuh bersama keinginan ke dalam debu,

Dan masih dengan keinginan yang lebih besar  mencari embun lagi.

Dan tak habis-habis mengukur waktu ini

Haruskah jiwaku membutuhkan sebuah 

samudera yang arusnya selalu mengacaukan satu sama lain,

Atau langit yang mengawasi angin membelokkan topan?

Akulah manusia, sebuah fragmen buta,

Dengan kesabaran aku dapat menemukannya.

Atau jika aku adalah ketuhanan yang maha tinggi,

Yang mengisi kekosongan manusia dan dewa-dewa,

Aku akan mengabulkannya .

Tapi baik kau maupun aku adalah manusia,

Tiada yang lebih tinggi di atas kita,

Kami ada kecuali senja pernah terbit dan kehilangan warna.

 
 

                       KAMI DAN KALIAN

                        Kahlil Gibran

Kamilah putra-putra penderitaan, sedang kalian

Putra-putra kerian. Ya, kamilah putra penderitaan

Dan penderitaan adalah bayangan Tuhan tunggal

Yang tak mendiami kawasan hati dengki.


Kamilah ruh yang sangsai, dan dukacita amatlah mulia

Buat berdiam di hati kecil

Bila kalian tertawa, kami meratap dan menangis,

Dan siapa yang pernah dibakar sekaligus dicuci oleh air matanya sendiri

Selamanya kan tetap suci


Biarpun kalian tak memahami kami, toh kami layangkan simpati.

Kalian ngebut bersama derasnya bengawan kehidupan,

Maka kalian tak menoleh kami,

Padahal kami duduk di bantaran sungai

Menontoni kalian dan menangkap suaramu ganjil


Kalian tak menangkap jeritan kami

Bisingnya hari membuat kalian tuli,

Tersumbat zat batu kehidupanmu yang tak pedulikan

Akan kebenaran, namun kami mendengar nyanyianmu

Karena bisikan dalam membukakan nurani kami


Kami menyaksikanmu berdiri di bawah ujung jemari cahaya

Tapi kalian tak bisa melihat kami

Karena kami tinggal.....

Dalam kegelapan yang menjanjikan pencerahan


Kalian putra pengejar surga dunia

Kalian tempatkan hati dalam genggaman  kehampaan

Karena sentuhan tangan kehampaan begitu luwes dan mengundang selera


Kalian tinggal dalam rumah kebodohan

Karena dalam rumah ini

Tiada cermin kaca buat memandang jiwa


Kami menghela nafas panjang, dan hari keluhan ini

Terbitlah bisikan bunga-bunga

dan gemerisik daunan dan bisikan anak sungai


tatkala kau rendahkan derajat kami, tingkahmu berbaur

Dengan penghancuran tengkorak, gemeretak reruntuhan

Dan ratapan dari jurang dalam


Kami menangis ....

Menaruh simpati pada si Miskin

Gelandangan dan Janda yang berduka

Sedang kalian Bersukaria tersenyum

Memandang emas yang gemerlapan....

Monday, 8 June 2015

PETUAH SANG GURU

 

 

 

"Sesungguhnya baik guru dan dokter tidak rela memberi apabila keduanya tidak dihargai, Bersabarlah dengan penyakitmu bila anda jauh dari dokter dan puaslah dengan kebodohanmu bila anda jauh dari guru"


"Hati itu seperti cermin jika ia bersih maka akan mudah melihat bayangan begitupun dengan hati yang bersih ia akan mudah melihat kebenaran"


"Hati yang bersih akan dapat menangkap cahaya ilahi"


"Jadilah sufi yang fakih"


"Ikhlas dan Amalan bagaikan ruh dan jazad. jazad tanpa ruh tiadalah artinya"


"Jangan meremehkan air yang tenang ia juga bisa menenggelamkan"


"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta tapi kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa (selalu merasa cukup)"


"Fanatiklah terhadap agama karena agama tidak mungkin salah"


"Jika kamu selalu berfikir bahwa untuk mendapatkan pekerjaan haruslah dengan sogokan maka dimanapun kamu akan mendapatkan hal demikian"


"Ambillah filosofi ikan dilaut ketika dalam kehidupan kamu mendapati disekelilingmu lebih memandang sesuatu tanpa mendasarinya dengan agama"


"Yang mendiamkan kebenaran adalah setan bisu"


"Kenalilah sifat buruk kalian kemudian bersihkan sifat burukmu lalu isilah dengan sifat yang terpuji (takholli ~ tahalli)"


"Buatlah mereka (anak dan orangtuanya) tidak punya alasan untuk menolakmu"

Thursday, 28 May 2015

          MASIH ADAKAH SENYUM SAHABATKU



Tak kutemukan lagi senyum sahabatku

Senyum yang betul ikhlas menyapaku

Yang menyimpan pengharapan

Bahwa Tuhan akan memberikan jalan

                                                  Kemana kau...? tak kutemukan lagi...

                                                  cahaya kebaikanmu dan kobaran semangatmu...

                                                 Dimana...? kan kudapatkan engkau kembali...

                                                 masih adakah yg seperti kau.... Sahabatku..                                               

                                             

Wednesday, 29 April 2015

PENJARA SUCI



       Dibenak orang, kau seperti bengkel yang siap merubah bahan rongsokan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini membuktikan bahwa banyak orang yang berasumsi bahwa kau hanya diperuntukkan bagi anak- anak yang mempunyai latar belakang permasalahan seperti pecandu narkoba, pemabuk, penjudi, dsb. Mereka anak-anak yang tidak biasa pisah dengan orang tuanya. Yah.. anak manjalah. Mereka angkat bicara " hidup ditempat seperti itu bagaikan berada di dalam penjara. Semuanya serba sendiri. Mau makan, sendiri. Mau tidur, sendiri. Mau cuci baju pun sendiri. Pokoknya semuanya serba sendiri". Dasar anak manja!!!!. Sampai kapan kalian akan terus bergantung pada orang tua kalian??. Cepat atau lambat, mau tidak mau kalian akan dipisahkan dengan orang tua kalian. Itulah sekelumit asumsi orang-orang mengenai dirimu wahai " Penjara suci ". 

      Apapun persepsi orang mengenai engkau, bagiku kau adalah tempat yang mengajarkan arti sebuah kemandirian, arti sebuah kebersamaan, mengajarkan berbagi rasa suka dan duka, serta mengajarkan arti sebuah pengorbanan. DiKaulah aku dapat belajar arti sebuah kesadaran, bahwa hidup tak selamanya harus bergantung pada orang. Sudah waktunya, aku harus beranjak pergi dan melangkah ke harapan yang harus aku capai. " مع السلامة ".



•Mapeck_2012-2015