skip to main |
skip to sidebar
DEWA PERTAMA
KAHLIL GIBRAN
O, rindu hebat yang terus menerusini,
Siap-siaga memandu siang sampai senjakala ini,
Serta malam sampai fajar menyingsing;
Pasang-surutnya selalu mengingatkan dan melupakan;
Selalu menaburkan nasib dan memanen
Kecuali harapan-harapan ini;
Tak berganti mengangkat diri dari debu dan embun ini,
Hanya memanjangkan untuk menaburi,dan
jatuh bersama keinginan ke dalam debu,
Dan masih dengan keinginan yang lebih besar mencari embun lagi.
Dan tak habis-habis mengukur waktu ini
Haruskah jiwaku membutuhkan sebuah
samudera yang arusnya selalu mengacaukan satu sama lain,
Atau langit yang mengawasi angin membelokkan topan?
Akulah manusia, sebuah fragmen buta,
Dengan kesabaran aku dapat menemukannya.
Atau jika aku adalah ketuhanan yang maha tinggi,
Yang mengisi kekosongan manusia dan dewa-dewa,
Aku akan mengabulkannya .
Tapi baik kau maupun aku adalah manusia,
Tiada yang lebih tinggi di atas kita,
Kami ada kecuali senja pernah terbit dan kehilangan warna.
0 komentar:
Post a Comment