Tuesday, 9 June 2015

DEWA PERTAMA

KAHLIL GIBRAN

 

O, rindu hebat yang terus menerusini,

Siap-siaga memandu siang sampai senjakala ini,

Serta malam sampai fajar menyingsing;

Pasang-surutnya selalu mengingatkan dan melupakan;

Selalu menaburkan nasib dan memanen

Kecuali harapan-harapan ini;

Tak berganti mengangkat diri dari debu dan embun ini,

Hanya memanjangkan untuk menaburi,dan 

jatuh bersama keinginan ke dalam debu,

Dan masih dengan keinginan yang lebih besar  mencari embun lagi.

Dan tak habis-habis mengukur waktu ini

Haruskah jiwaku membutuhkan sebuah 

samudera yang arusnya selalu mengacaukan satu sama lain,

Atau langit yang mengawasi angin membelokkan topan?

Akulah manusia, sebuah fragmen buta,

Dengan kesabaran aku dapat menemukannya.

Atau jika aku adalah ketuhanan yang maha tinggi,

Yang mengisi kekosongan manusia dan dewa-dewa,

Aku akan mengabulkannya .

Tapi baik kau maupun aku adalah manusia,

Tiada yang lebih tinggi di atas kita,

Kami ada kecuali senja pernah terbit dan kehilangan warna.

 
 

0 komentar: